Lampung Utara – Seorang wali murid SMAN 4 Kotabumi, Rizki, menyampaikan kekecewaannya atas keputusan sekolah yang tidak menaikkan kelas anaknya. Padahal sebelumnya pihak sekolah sempat menawarkan opsi “naik kelas bersyarat”.
Hal itu disampaikan Rizki usai mendatangi sekolah pada Rabu 19 Agustus 2026.
Menurut Rizki, pada 13 Juli 2026 pihak sekolah mengumpulkan sejumlah wali murid untuk membahas perkembangan siswa. Dalam pertemuan itu diberikan dua opsi, yakni tetap tinggal di kelas atau naik kelas dengan syarat pindah ke sekolah lain.
Karena ingin anaknya tetap bersekolah di SMAN 4, para wali murid memilih bertahan. Pihak sekolah kemudian memberikan masa penilaian selama 1 bulan dengan tiga aspek: kehadiran, tingkah laku, dan penyelesaian tugas.
“Akhirnya kami minta anak tetap dipertahankan di SMAN 4, dengan penilaian absensi, tingkah laku, dan pekerjaan tugas selama satu bulan,” kata Rizki.
Pada 13 Agustus 2026, pihak sekolah kembali memanggil wali murid untuk menyampaikan hasil penilaian. Namun Rizki mengaku tidak sependapat dengan hasilnya.
“Saya merasa janggal. Anak saya sudah mengerjakan tugas sesuai aspek penilaian, tapi tetap tidak dinyatakan naik kelas,” ujarnya.
Lanjut Rizki ada salah satu guru Sukiman sempat melontarkan kata kata kepada anak saya kamu itu titipan sekolah gratis,anak mana kamu di jawab anak saya muara jaya terus di jawab guru yang nama Sukiman pantas,dari perkataan itu seolah olah guru Sukiman ini ada dendam pribadi dengan anak saya,”jelas Rizki.
Menanggapi protes tersebut, Plt. Kepala SMAN 4 Kotabumi Mahmud Badrun menegaskan keputusan itu sudah sesuai prosedur dan telah berkoordinasi dengan Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah 4 Provinsi Lampung.
“Pihak sekolah sudah memaksimalkan apa yang seharusnya kami berikan kepada murid, dan juga berkoordinasi dengan pihak KCD agar memfasilitasi. Namun dari beberapa aspek penilaian, siswa ini belum mampu menuntaskan tugasnya,” kata Mahmud.
Ia menambahkan, kebijakan kenaikan kelas merupakan kewenangan sekolah sebagai tolak ukur mutu pendidikan agar tetap terjaga.
Di akhir, Rizki berharap ke depan komunikasi antara sekolah dan wali murid bisa lebih transparan sejak awal agar tidak terjadi kesalahpahaman serupa.(Red)







