MERANGIN – Penolakan hasil panen jagung oleh Bulog Merangin kini memicu keresahan di kalangan petani. Jagung yang ditanam melalui program ketahanan pangan desa, yang sebelumnya dijanjikan akan diserap oleh Bulog, justru banyak yang tidak diterima saat panen tiba.
Akibat kondisi tersebut, para petani di sejumlah wilayah, khususnya Kecamatan Tabir Ulu, terpaksa mengambil langkah lain dengan menjual hasil panen mereka kepada tengkulak.
Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini, sejak awal para kepala desa bersama masyarakat menjalankan program penanaman jagung dengan penuh semangat. Program tersebut menjadi harapan baru bagi desa untuk meningkatkan ekonomi warga melalui sektor pertanian.
Namun harapan itu kini berubah menjadi kekecewaan setelah hasil panen yang sudah dikumpulkan dalam jumlah besar ditolak oleh pihak Bulog.
Salah satu petani menyampaikan keluhannya. “Jagung kito tadi sudah dites kadar airnyo, kadar air udah 10 persen. Tapi alasannyo ditolak, katanya berjamur. Kalau dak bisa dijual ke Bulog, mau dijual kemano lagi?” ujarnya.
Penolakan tersebut membuat petani berada dalam posisi sulit. Jagung yang sudah dipanen tidak mungkin disimpan terlalu lama karena berisiko rusak. Sementara pasar besar yang diharapkan justru tidak memberikan kepastian.
Akhirnya, banyak petani memilih menjual jagung ke tengkulak sebagai jalan terakhir.
Ironisnya, harga yang diberikan tengkulak disebut lebih tinggi dibanding harga Bulog. Hal ini membuat petani semakin mempertanyakan keberadaan Bulog sebagai lembaga yang seharusnya menyerap hasil pertanian rakyat.
“Kalau Bulog menolak terus, petani mau tidak mau lari ke tengkulak. Dan harga tengkulak malah lebih tinggi,” ungkap seorang pegawai kecamatan.
Selain penolakan, muncul pula sorotan terkait minimnya sosialisasi kepada petani. Banyak warga desa mengaku tidak pernah mendapat penjelasan jelas mengenai standar kadar air maupun kualitas jagung yang dapat diterima Bulog.
“Bulog ini tidak pernah turun ke petani. Harusnya dijelaskan dari awal seperti apa standar yang diterima. Giliran petani bawa jagung, malah ditolak-tolak,” tambahnya.
Kondisi ini dinilai membuat petani bingung dan akhirnya memilih jalur tengkulak yang lebih cepat dan pasti.
Sejumlah kepala desa juga mulai mengeluhkan situasi ini. Mereka menilai jika Bulog terus menolak tanpa solusi, maka program penanaman jagung dalam skala besar bisa terhenti karena petani kehilangan tempat penjualan resmi.
“Kalau begini terus, lebih baik hentikan saja tanam jagung. Karena tidak ada pasar besar yang jelas,” ungkap warga. (Ady Lubis)






