MERANGIN – Pihak pengelola parkir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kolonel Abundjani Bangko akhirnya angkat bicara terkait keluhan salah satu warga yang sempat viral di media sosial mengenai pelayanan parkir dan biaya keluar masuk kendaraan di area rumah sakit tersebut.
Menurut keterangan salah satu petugas parkir RSUD Kolonel Abundjani Bangko, Syamsudin, kejadian tersebut bermula saat ada seorang pengunjung yang meminta kartu member parkir untuk rawat inap pada malam hari. Namun, petugas menjelaskan bahwa kartu member sementara sedang tidak tersedia dan baru akan tersedia pada pagi hari berikutnya.
“Memang ada salah satu orang meminta kartu member rawat inap, tapi saat itu stok member tidak ada. Biasanya memang ada, namun kebetulan malam itu habis karena kartu tersebut dikirim dari pusat di Jakarta oleh pihak perusahaan,” ujar Syamsudin.
Ia menjelaskan, pengunjung tersebut kemudian terlibat adu mulut dengan petugas parkir karena tetap ingin mendapatkan kartu member malam itu juga. Bahkan menurutnya, pengunjung tersebut sempat mengeluarkan kata-kata kasar kepada petugas.
“Orang itu memaki-maki kasir bahkan memaki saya dengan bahasa yang tidak layak. Kemudian ditegur oleh kasir kami agar berbicara sopan karena saya sudah tua,” katanya.
Syamsudin juga membantah tuduhan bahwa dirinya sempat melakukan tindakan kekerasan atau menendang pengunjung seperti yang ramai disebut di media sosial.
“Kalau ada bahasa saya menendang itu tidak benar. Silakan cek CCTV, semuanya ada rekamannya,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu kasir parkir berinisial A turut memberikan klarifikasi terkait tudingan pelayanan buruk yang diarahkan kepadanya. Ia mengatakan bahwa kondisi matanya yang disebut “melotot” oleh pengunjung memang merupakan bawaan fisik.
“Kalau terkait mata saya yang dibilang melotot, memang bentuk fisik saya seperti ini,” ujarnya saat ditemui media pada Jumat (15/5/2026).
A menjelaskan kronologi kejadian bermula ketika seorang perempuan meminta kartu member parkir rawat inap. Namun karena kartu member sedang kosong, pihaknya meminta pengunjung menggunakan tiket biasa sesuai aturan yang berlaku.
“Dia bilang mau keluar masuk karena ada keluarga rawat inap. Saya jelaskan kalau member tidak ada, jadi tetap menggunakan tiket biasa dan setiap keluar masuk dikenakan biaya sesuai aturan,” jelasnya.
Menurut A, pengunjung tersebut beberapa kali keluar masuk area parkir sambil mengambil tiket baru sehingga tarif parkir terus bertambah. Ia juga mengaku sempat mendapatkan perlakuan kasar dari pengunjung tersebut.
“Dia sempat berkata kasar dan menarik tangan saya. Untung langsung ditarik oleh ibunya. Kalau ibunya sebenarnya mau mengerti dan membayar sesuai aturan,” tambahnya.
Pihak parkir menjelaskan bahwa tarif yang diterapkan sudah sesuai ketentuan yang berlaku, yakni Rp2.000 untuk satu jam pertama dan akan bertambah apabila melewati batas waktu.
Sebelumnya, di media sosial Facebook sempat beredar unggahan dari salah satu akun yang mengeluhkan biaya parkir rawat inap di RSUD Bangko karena harus membayar setiap kali keluar masuk rumah sakit. Dalam unggahan tersebut juga disebutkan adanya petugas parkir yang dinilai bersikap kasar.
Menanggapi hal itu, pihak pengelola parkir meminta masyarakat untuk tidak langsung menyimpulkan sebelum melihat fakta sebenarnya di lapangan. Mereka menegaskan bahwa seluruh aktivitas di area parkir terekam CCTV dan dapat dijadikan bukti apabila diperlukan.
Dari klarifikasi yang disampaikan pihak pengelola parkir RSUD Kolonel Abundjani Bangko, dapat disimpulkan bahwa persoalan tersebut terjadi akibat miskomunikasi terkait ketersediaan kartu member rawat inap serta emosi antara pengunjung dan petugas di lapangan.
Pihak parkir juga membantah adanya tindakan kekerasan sebagaimana tudingan yang beredar di media sosial dan menegaskan seluruh kejadian dapat dibuktikan melalui rekaman CCTV. (Ady Lubis)






