MERANGIN — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Bangko menggelar kegiatan tasyakuran dalam rangka memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan (HBP) ke-62 Tahun 2026 dengan penuh khidmat, semangat kebersamaan, dan nuansa reflektif.
Kegiatan ini dilaksanakan secara virtual dan diikuti serentak oleh seluruh jajaran pemasyarakatan di Indonesia sebagai wujud sinergi nasional dalam memperkuat komitmen pelayanan publik yang humanis dan berintegritas.
Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan di Lapas Bangko tidak sekadar menjadi agenda seremonial, namun diisi dengan berbagai kegiatan nyata yang menyentuh langsung kebutuhan warga binaan dan masyarakat sekitar. Langkah ini menjadi bukti bahwa semangat pemasyarakatan terus bergerak menuju pelayanan yang lebih inklusif, responsif, dan berdampak sosial.
Salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah pelaksanaan perekaman Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan KTP Elektronik (E-KTP) bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang belum memiliki identitas resmi. Program ini terlaksana berkat kerja sama antara Lapas Bangko dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Merangin.
Perekaman data kependudukan ini menjadi langkah strategis dalam memastikan terpenuhinya hak dasar warga binaan sebagai warga negara. Selain itu, program ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung proses reintegrasi sosial, sehingga warga binaan dapat lebih mudah mengakses layanan publik baik selama menjalani masa pidana maupun setelah kembali ke tengah masyarakat.
Sebagai bentuk nyata kepedulian sosial, Lapas Bangko juga menggelar kegiatan bakti sosial yang dipimpin langsung oleh Kepala Lapas Bangko, Heri. Dalam kegiatan tersebut, bantuan sosial berupa paket sembako disalurkan kepada empat warga masyarakat yang membutuhkan berdasarkan kondisi ekonomi dan kebutuhan mendesak.
Tidak hanya memberikan bantuan konsumtif, Lapas Bangko juga menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemberdayaan ekonomi keluarga warga binaan melalui pemberian bantuan gerobak usaha. Bantuan ini diberikan kepada keluarga warga binaan yang kehilangan sumber penghasilan utama, sebagai bentuk dukungan agar tetap mampu bertahan dan mandiri secara ekonomi.
Penetapan penerima bantuan dilakukan secara selektif dan transparan melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Penilaian tidak hanya didasarkan pada kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga mempertimbangkan perilaku warga binaan selama menjalani pembinaan, termasuk kedisiplinan, partisipasi aktif dalam program pembinaan, serta kontribusi positif yang telah ditunjukkan.
Langkah tersebut menegaskan bahwa pendekatan pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan individu warga binaan, tetapi juga memperhatikan keberlangsungan kehidupan sosial dan ekonomi keluarga sebagai bagian dari proses pembinaan yang utuh dan berkelanjutan.
Usai rangkaian tasyakuran dan upacara peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan, kegiatan dilanjutkan dengan acara pengantar tugas bagi tiga pejabat struktural eselon IV Lapas Bangko yang mendapat mutasi jabatan. Suasana berlangsung hangat dan penuh haru sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan pengabdian mereka selama bertugas.
Adapun pejabat yang mendapat amanah baru yakni Pa’i Saman sebagai Kepala Seksi Administrasi Keamanan dan Ketertiban di Lapas Kuala Tungkal, Giono pada jabatan serupa di Lapas Muara Bungo, serta Bayu Kumara sebagai Kepala Seksi Binapigiatja di Lapas Sarolangun.
Momen pengantar tugas tersebut menjadi ajang refleksi dan perpisahan yang sarat makna. Suasana haru dan ungkapan terima kasih dari jajaran pegawai mencerminkan kuatnya solidaritas dan kebersamaan di lingkungan Lapas Bangko.
Dalam sambutannya, Kepala Lapas Bangko, Heri, menegaskan bahwa peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62 harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam memberikan pelayanan terbaik dan meningkatkan kualitas pembinaan.
“Hari Bhakti Pemasyarakatan bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi menjadi momentum refleksi untuk terus berbenah, meningkatkan profesionalisme, dan memperkuat integritas dalam menjalankan tugas. Pemasyarakatan harus hadir sebagai solusi, bukan hanya menjalankan fungsi pengamanan,” ujar Heri.
Ia juga menekankan bahwa kegiatan bakti sosial merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat, terutama bagi mereka yang membutuhkan.
“Melalui kegiatan bakti sosial ini, kami ingin menunjukkan bahwa pemasyarakatan tidak terpisah dari masyarakat. Kami hadir, peduli, dan berupaya memberikan kontribusi nyata bagi warga binaan maupun keluarganya. Bantuan yang diberikan mungkin tidak besar, tetapi kami berharap dapat menjadi awal dari kemandirian dan harapan baru,” tambahnya.
Terkait bantuan gerobak usaha, Heri menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari strategi pembinaan berkelanjutan yang juga menyasar ketahanan ekonomi keluarga warga binaan.
“Kami memahami keluarga warga binaan turut merasakan dampaknya. Karena itu, bantuan gerobak usaha ini diharapkan menjadi sarana produktif bagi keluarga untuk tetap bertahan dan berkembang secara ekonomi. Ini juga menjadi dukungan moral bagi warga binaan agar terus berperilaku baik selama menjalani masa pidana,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Heri juga menyampaikan pesan kepada para pejabat yang mendapat amanah baru agar terus menjaga integritas dan profesionalisme.
“Mutasi adalah bagian dari dinamika organisasi dan bentuk kepercayaan institusi. Kami bangga atas dedikasi yang telah diberikan selama bertugas di Lapas Bangko. Semoga di tempat yang baru, saudara dapat terus menunjukkan kinerja terbaik, menjaga integritas, serta membawa semangat positif yang telah dibangun di sini,” ungkapnya.
Peringatan Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-62 di Lapas Bangko menjadi gambaran nyata transformasi pemasyarakatan ke arah yang lebih baik. Tidak hanya sebagai institusi pembinaan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi sosial yang hadir untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif, berkeadilan, dan berkeadaban. (Ady Lubis)







