MERANGIN – Sejumlah warga Desa Rantau Macang,Kecamatan Muara Siau, Kabupaten Merangin, mengeluhkan dugaan adanya ketidaksesuaian antara realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) dengan kondisi fisik kegiatan di lapangan. Dugaan tersebut mencuat setelah warga mencermati sejumlah program yang tercantum dalam laporan penggunaan Dana Desa dari tahun 2022 hingga 2025.
Berdasarkan penelusuran dan data kegiatan yang beredar di masyarakat, terdapat berbagai program pembangunan dan pemberdayaan yang telah dianggarkan dengan nilai cukup besar, mulai dari pembangunan dan pemeliharaan jalan desa, jalan usaha tani, operasional posyandu dan pos kesehatan desa, hingga kegiatan pembinaan kelembagaan dan festival budaya. Namun, menurut warga, sebagian hasil kegiatan tersebut diduga tidak sepenuhnya terlihat atau tidak sesuai dengan volume dan nilai anggaran yang tercantum.
Seorang warga Rantau Macang yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa masyarakat mulai mempertanyakan transparansi pengelolaan Dana Desa karena kondisi fisik di lapangan dinilai tidak sebanding dengan anggaran yang telah dialokasikan.
“Kalau dilihat dari laporan, anggarannya besar, tapi di lapangan kami melihat ada pekerjaan yang kualitasnya rendah, bahkan ada yang kami duga tidak sesuai volumenya. Ini yang membuat masyarakat bertanya-tanya,” ujarnya.
Dugaan Manipulasi Data dan Realisasi Kegiatan
Warga lainnya menyebutkan bahwa persoalan bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kegiatan nonfisik seperti pembinaan lembaga desa, operasional kelembagaan, serta penyelenggaraan kegiatan sosial dan budaya.
“Dalam laporan disebutkan kegiatan pembinaan dan operasional sudah terlaksana, tapi kami sebagai warga tidak merasakan dampaknya secara nyata. Ada kesan hanya tercatat di administrasi,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Beberapa warga juga menyoroti program pembangunan jalan desa dan jalan usaha tani yang dilaporkan telah mencapai ribuan meter dalam beberapa tahun anggaran. Menurut mereka, kondisi jalan yang ada saat ini masih banyak yang rusak dan belum layak digunakan, sehingga menimbulkan dugaan adanya ketidaksesuaian antara laporan realisasi dan kondisi riil.
“Kalau memang anggaran dan volumenya sesuai, seharusnya jalan-jalan itu sudah bagus dan bisa dinikmati petani. Faktanya, masih banyak yang rusak,” ujar warga lainnya.
Warga Minta Audit dan Transparansi
Atas kondisi tersebut, masyarakat Desa Rantau Macang berharap agar pihak berwenang dapat melakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan Dana Desa. Warga menilai audit diperlukan untuk memastikan bahwa setiap rupiah anggaran benar-benar digunakan sesuai peruntukannya dan tidak terjadi penyimpangan.
“Kami hanya ingin kejelasan dan keterbukaan.
Dana Desa itu uang negara untuk kepentingan masyarakat, jadi harus dikelola secara jujur dan transparan,” tegas salah satu perwakilan warga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemerintah Desa Rantau Macang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Media ini masih berupaya menghubungi pihak terkait guna memperoleh klarifikasi agar pemberitaan tetap berimbang sesuai prinsip jurnalistik. (Ady Lubis)






