MERANGIN – Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dalam beberapa hari terakhir mulai memicu keresahan di kalangan petani dan pelaku usaha sawit di Kabupaten Merangin serta sejumlah wilayah sekitar. Penurunan harga yang terjadi secara drastis dinilai sangat memberatkan, terutama bagi petani kecil yang menggantungkan penghasilan utama dari hasil panen sawit.
Sebelumnya, PT Agrindo Indah Persada (AIP) yang berlokasi di Jalan Lintas Sumatera KM 13, Desa Tambang Baru, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, sempat menuai sorotan setelah menurunkan harga TBS sebesar Rp450 per kilogram. Kebijakan tersebut kala itu dikeluhkan sejumlah supplier dan pengusaha TBS karena dianggap lebih tinggi dibanding penurunan harga beberapa pabrik lain.
Sejumlah pelaku usaha sawit sebelumnya mempertanyakan keputusan tersebut lantaran banyak kendaraan pengangkut TBS telah mengantre selama berhari-hari di area pabrik. Mereka menilai penurunan harga mendadak itu cukup memberatkan petani dan supplier.
Namun, pada Jumat (22/05/2026), media ini kembali melakukan konfirmasi kepada salah satu pihak PT AIP. Asisten Manager PT AIP, Junaidi, memberikan penjelasan sekaligus menunjukkan bahwa penurunan harga TBS tidak hanya terjadi di PT AIP, namun juga dialami sejumlah perusahaan pabrik kelapa sawit lain di wilayah Jambi dan sekitarnya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Junaidi kepada media ini, beberapa perusahaan lain bahkan menurunkan harga lebih tinggi dari PT AIP.
Di antaranya PT PML yang terhitung 22 Mei 2026 menurunkan harga TBS hingga Rp700. Kemudian PT KMB juga menurunkan harga TBS dan brondolan sebesar Rp700. Hal serupa terjadi di PT Kurnia Palma Berjaya (KPB), Kabupaten Tebo, yang turut memangkas harga TBS plasma, lokal, dan brondolan sebesar Rp700.
Selain itu, PT SSSA Tebo Jambi juga melakukan penyesuaian harga dengan penurunan TBS sebesar Rp500, sementara PT AWI menurunkan harga TBS hingga Rp475.
Menanggapi sorotan yang sebelumnya berkembang, Asisten Manager PT AIP, Junaidi, juga memberikan komentarnya kepada media ini.
“Mantap Pak, yang turun Rp700 bisa jadi berita hangat nih,” ujar Junaidi singkat saat menanggapi perbandingan penurunan harga di sejumlah pabrik sawit lainnya.
Meski demikian, kondisi turunnya harga sawit secara serentak di sejumlah pabrik kini justru menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan petani. Banyak petani sawit mengaku mulai menjerit akibat pendapatan yang terus tergerus, sementara biaya operasional kebun, pupuk, tenaga kerja, hingga angkut hasil panen masih cukup tinggi.
Para petani berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pusat agar dapat mengambil kebijakan strategis terhadap anjloknya harga sawit yang dinilai berdampak langsung terhadap ekonomi masyarakat pedesaan.
Pelaku usaha dan petani kini menunggu langkah konkret pemerintah, termasuk stabilisasi harga dan pengawasan distribusi pasar CPO, agar harga TBS tidak terus mengalami tekanan yang semakin membebani petani kecil.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa fluktuasi harga sawit tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan ribuan petani yang menggantungkan penghidupan dari sektor perkebunan kelapa sawit. (Ady Lubis)






